Selamat Datang di Pusat Informasi & Dokumentasi

Pura Agung Besakih

Nikmati pengalaman imersif memungkinkan Anda menjelajah dan mengenal
Pura Agung Besakih yang dikenal sebagai awal peradaban Hindu Bali

Virtual Reality Tour 360
cover

Lintasan Sejarah Besakih

Sepanjang Sejarah, pengaruh negara terhadap Pura Besakih telah hadir secara konsisten. Para penguasa dari masa kerajaan hingga era republik, secara langsung atau tidak langsung turut serta dalam pemeliharaan fisik pura maupun pelaksanaan ritual. Keterlibatan ini menjadi syarat minimum agar sebuah pura disebut sebagai “pura negara”. Hubungan antara pura dan negara berubah seiring perubahan bentuk negara di Bali—dari masa pra-Majapahit, kerajaan-kerajaan tradisional seperti Gelgel Klungkung, masa kolonial Belanda, hingga era Republik Indonesia. Meskipun negara mengalami pasang surut, Pura Besakih tidak pernah ditinggalkan, karena didukung oleh ideologi hierarki yang menempatkan pura ini sebagai pusat spiritual tertinggi.

Terdapat beberapa legenda yang menceritakan tentang Pura Besakih pada masa lampau, dalam suatu masa yang sangat kuno, di luar jangkauan kronologi yang jelas, mencerminkan pandangan orang Bali bahwa Besakih adalah tempat yang sangat tua. Sejauh mana legenda- legenda ini di masa lalu masih sulit ditentukan karena sedikitnya data historis tentang penyebaran dan waktu kemunculannya.

Selama lima puluh tahun terakhir, pemahaman orang Bali terhadap Sejarah masa lalu telah dipengaruhi oleh gagasan sejarah Barat, baik secara umum maupun lewat tulisan-tulisan para sarjana Barat dan Indonesia. Di kalangan terdidik Bali, legenda-legenda tidak lagi hidup dalam ruang waktu yang statis, tetapi mulai disusun ke dalam kerangka kronologis yang lebih sistematis. Misalnya, legenda Rsi Markandeya kini dianggap sebagai mitos awal tidak hanya bagi Pura Besakih, tetapi juga bagi penyebaran Hindu pertama kali di Bali. Sementara itu, Dalem Kesari dikaitkan dengan raja sejarah abad ke-10, dan Mpu Kuturan dianggap sebagai tokoh penting dalam sejarah keagamaan Bali.

Legenda Kedatangan Rsi Markandeya

cover

Menurut legenda, Pura Besakih didirikan oleh Rsi Markandeya, seorang pendeta Hindu yang datang dari Pulau Jawa pada abad ke-10 Masehi.

Rsi Markandeya melakukan perjalanan panjang dan melelahkan untuk mencapai Pulau Bali, yang pada saat itu masih berupa hutan lebat dan belum banyak dihuni. Namun, upaya pertamanya untuk membangun Pura Besakih tidak berhasil, karena beliau menghadapi banyak kesulitan dan tantangan. Rsi Markandeya kemudian kembali ke Pulau Jawa dan melakukan persiapan spiritual sebelum melakukan perjalanan kedua ke Bali.

Pada perjalanan keduanya, Rsi Markandeya akhirnya tiba di kaki Gunung Agung, gunung tertinggi di Bali. Sebelum memulai pembangunan Pura Besakih, Rsi Markandeya melakukan ritual penanaman Panca Datu, yaitu lima elemen yang dipercaya dapat menyeimbangkan dan menyucikan tempat tersebut. Ritual ini dilakukan untuk membersihkan dan menyucikan lokasi, serta untuk memastikan bahwa Pura Besakih dapat menjadi tempat suci yang harmonis dan seimbang.

Pura pertama yang dibangun dalam kompleks Pura Besakih adalah Pura Basukihan, yang terletak di bagian bawah kompleks pura. Setelah Pura Basukihan berhasil dibangun, Rsi Markandeya kemudian membangun pura-pura lainnya dalam kompleks Pura Besakih. Pura Besakih kemudian menjadi pusat keagamaan dan spiritual bagi masyarakat Bali, dan terus berkembang hingga saat ini.

Kedatangan Mpu Kuturan ke Pura Besakih

cover

Dalam pandangan orang Bali, tokoh seperti Mpu Kuturan dikaitkan secara historis dengan Mpu Baradah dan Raja Airlangga, sehingga dianggap memiliki posisi dalam kerangka waktu tertentu.

Raja UDAYANA atau biasa dipanggil Dharmodayana Warmadewa merupakan Putra dari Sri Kesari Warmadewa (penguasa pertama di Bali yang namanya dikenal dari Prasasti Blanjong 914 Masehi di Sanur), adalah sosok penting dalam sejarah Bali. Ia menikahi putri Jawa Timur, Mahendradatta (Gunapriya Dharmapatni), keturunan Raja Sindok, dalam suatu aliansi politik yang membawa pengaruh budaya Jawa ke Bali. Pada masa pemerintahan mereka, bahasa Jawa Kuno mulai digunakan dalam prasasti-prasasti resmi, dan catatan tertulis kerajaan bertanggal antara tahun 989 hingga 1001.

Sezaman dengan Raja Udayana dan Raja Airlangga di Kerajaan Majapahit, terdapat dua brahmana terkemuka yaitu MPU KUTURAN dan MPU BARADAH. Keduanya memainkan peran besar dalam struktur otoritas politik dan keagamaan. Mpu Bradah dikenal sebagai pendeta kerajaan Airlangga, sementara Mpu Kuturan dihormati sebagai tokoh pembaru utama adat dan agama Bali termasuk pengenalan sistem Tri Kahyangan (tiga pura desa).

Dalam tradisi Bali, Mpu Kuturan dan Mpu Bradah dikenal sebagai kakak beradik. Sebuah legenda populer menyebut bahwa Airlangga mengutus Mpu Bradah ke Bali untuk membujuk Mpu Kuturan mendukung rencana pembagian kekuasaan antara dua putranya. Namun, Mpu Kuturan menolak, dan Bali tetap di bawah kendali bangsawan lokal yang didukungnya, sedangkan Jawa terbagi menjadi dua wilayah.

Baik Mpu Kuturan maupun Mpu Bradah memiliki hubungan dengan Pura Besakih. Mpu Bradah dihormati melalui keberadaan tempat pemujaan di Merajan Kanginan dan Pura Penataran Agung. Sementara itu, Mpu Kuturan dikaitkan dengan pembangunan meru dan perencanaan struktur pura Besakih. Ia juga dihubungkan dengan Pura Peninjoan, titik tertinggi dari mana ia diyakini merancang kawasan tersebut.

Dengan demikian, Mpu Kuturan telah meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi masyarakat Bali, yaitu sistem kepercayaan dan tata cara persembahyangan Hindu yang harmonis dan seimbang, serta konsep-konsep spiritual yang masih dipraktikkan hingga saat ini.

Kedatangan Dang Hyang Nirartha

cover

Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh spiritual Hindu yang berpengaruh, tiba di Bali pada abad ke-15, tepatnya pada tahun 1489 Masehi, semasa pemerintahan Raja Sri Dalem Waturenggong. Beliau datang dari Jawa sebagai bagian dari perjalanan dharmayatra dan tidak pernah kembali ke tanah asalnya karena pengaruh agama Hindu di Jawa mulai terdesak oleh agama Islam.

Selama di Bali, Dang Hyang Nirartha menetap di beberapa tempat, termasuk desa Mas, dan melakukan perjalanan ke berbagai wilayah untuk menyebarkan ajaran Hindu. Meskipun tidak ada catatan langsung tentang kunjungan beliau ke Pura Besakih, perannya dalam mengembangkan ajaran Hindu di Bali sangat signifikan.

Beberapa kontribusi penting Dang Hyang Nirartha bagi kepercayaan Hindu di Bali meliputi :

  • Pengembangan Ajaran Siwa Sidhanta: Dang Hyang Nirartha memperkenalkan konsep Tri Purusa, yaitu Paramasiwa, Sadasiwa, dan Siwa, dengan Sadasiwa sebagai aspek yang paling diagungkan. Beliau juga memperkenalkan pelinggih Padmasana sebagai tempat pemujaan Tuhan Yang Maha Esa.
  • Pembentukan Struktur Masyarakat: Dang Hyang Nirartha berperan dalam pembentukan struktur masyarakat Bali yang berbasis pada wangsa atau kasta. Beliau juga memperkenalkan sistem keagamaan yang lebih terstruktur dan memisahkan peran antara brahmana dan masyarakat umum.
  • Penyebaran Ajaran Hindu: Melalui perjalanan dan pengajarannya, Dang Hyang Nirartha berhasil menyebarkan ajaran Hindu ke berbagai wilayah di Bali dan bahkan hingga Lombok

Dang Hyang Nirartha yang juga dikenal dengan nama Dang Hyang Dwijendra maupun Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh, meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi masyarakat Hindu di Bali, dan ajarannya masih dipraktikkan hingga saat ini.

Besakih di masa pemerintahan Raja Klungkung Ida Dalem Waturenggong

cover

Gelgel, sebagai pusat kerajaan besar pasca-Majapahit di Bali, menjadikan Gunung Agung dan Pura Besakih sebagai simbol sentral kekuasaan spiritual dan politiknya. Dalam kosmologi Bali, gunung - terutama Gunung Agung - dipandang sebagai tempat suci yang menjadi pusat alam semesta (axis mundi). Pura Besakih, terletak di lereng Gunung Agung, diasosiasikan dengan pusat kekuatan spiritual tertinggi di Bali. Dalam pandangan ini, keberadaan raja tidak dapat dipisahkan dari gunung sebagai simbol dan sumber kekuasaan. Ideologi kepemimpinan dalam tradisi Bali mengaitkan peran raja (dalam gelar Ida Dalem) sebagai perpanjangan tangan Dewa Gunung. Raja dianggap bertanggung jawab menjaga keseimbangan antara tiga unsur utama dalam konsep Tri Hita Karana: hubungan antara manusia dan Tuhan (parahyangan), manusia dengan manusia (pawongan), dan manusia dengan alam (palemahan). Keseimbangan ini diwujudkan melalui partisipasi aktif raja dalam ritus-ritus keagamaan utama di Besakih.

Struktur organisasi Pura Besakih pada masa kerajaan tradisional menampilkan suatu bentuk kerja sama antara penguasa pusat dan otoritas lokal. Dua tokoh kunci yang mengemban tanggung jawab atas Besakih adalah Ida Dalem (raja Gelgel/Klungkung) dan Anglurah Sidemen (pemimpin adat lokal Besakih). Ida Dalem sebagai raja memiliki kewenangan tertinggi dalam hal simbolisme dan legitimasi kekuasaan. Ia berperan sebagai patron utama Pura Besakih, baik secara spiritual maupun administratif. Partisipasinya dalam berbagai upacara agung bukan hanya sebagai pemimpin politik tetapi sebagai figur religius yang menghubungkan kerajaan dengan kekuatan transenden. Dalam berbagai sumber lisan dan tulisan, diceritakan bahwa Ida Dalem sering mengirim utusan dan sumber daya untuk mendukung kegiatan keagamaan di Besakih, termasuk renovasi meru, pengadaan alat upacara, hingga pengangkatan pemangku atau jero yang bertugas secara tetap. Di sisi lain, Anglurah Sidemen memainkan peran administratif dan operasional. Ia bertanggung jawab atas pengorganisasian sumber daya lokal, termasuk para pengayah (pengabdi ritual), petani yang mengelola tanah-tanah jajar pura, dan para pemangku yang menjalankan upacara harian. Peran Anglurah Sidemen juga mencakup pelestarian adat istiadat, penegakan aturan lokal, dan menjaga kontinuitas ritual sesuai tradisi leluhur. Model kerja sama ini mencerminkan sistem dualisme kekuasaan khas Bali, di mana kekuasaan negara dan adat berjalan seiring. Dalam sistem ini, Besakih menjadi contoh nyata integrasi antara struktur kerajaan dan masyarakat adat. Kolaborasi antara Ida Dalem dan Anglurah Sidemen memperlihatkan bahwa pura tidak dapat dijalankan hanya dengan struktur formal kerajaan atau adat saja, tetapi harus berlandaskan kerjasama harmonis keduanya.

Beberapa warisan yang ditinggalkan oleh Ida Dalem Waturenggong antara lain :

  • Pengembangan Sistem Keagamaan: Raja Waturenggong mendukung pengembangan sistem keagamaan Hindu di Bali, yang dipengaruhi oleh ajaran Dang Hyang Nirartha dan Mpu Kuturan.
  • Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya: Beliau memerintahkan pembangunan Pura Dalem Sidakarya, yang kemudian berganti nama menjadi Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya, sebagai tempat nunas tirta sidakarya bagi umat Hindu.
  • Warisan Sastra: Masa pemerintahan Raja Waturenggong juga menghasilkan banyak karya sastra keagamaan, seperti Sebun Bangkung, Kawya Dharma Putus, dan Usana Bali. 

Dalam pemerintahan Raja Waturenggong, Pura Besakih mungkin tidak secara langsung disebutkan sebagai fokus utama, namun perkembangan agama dan budaya pada masa itu tentunya berdampak pada pura-pura lainnya di Bali, termasuk Pura Besakih yang merupakan salah satu pura terpenting di Bali.

Referensi: Stuart-Fox, David J. Pura Besakih: A Study of Balinese Religion and Society. PhD diss., The Australian National University, 1987.

Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya

cover

Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan perjalanan Brahmana Keling, yang kemudian dikenal sebagai Dalem Sidakarya, ke Pura Besakih.

Brahmana Keling dari Pulau Jawa tiba di Pura Besakih untuk membantu Raja Dalem Waturenggong dalam upacara Eka Dasa Rudra. Namun, masyarakat setempat meragukan hubungan kekeluargaan antara Brahmana Keling dan Dalem Waturenggong, sehingga Brahmana Keling diusir dengan cara yang tidak hormat.

Sebelum meninggalkan Pura Besakih, Brahmana Keling mengucapkan kutukan yang menyebabkan kekeringan dan kehancuran di seluruh Bali. Kutukan ini terbukti benar, dan Dalem Waturenggong kemudian melakukan meditasi di Pura Besakih untuk meminta petunjuk. Ida Batara memberi tahu Dalem Waturenggong bahwa Brahmana Keling memiliki kemampuan untuk menghilangkan kutukan tersebut.

Setelah Brahmana Keling mengangkat kutukannya, Dalem Waturenggong memberikan penghargaan dengan menganugerahkan gelar Dalem Sidakarya kepadanya. Dalem Waturenggong juga memerintahkan pembangunan Pura Dalem Sidakarya pada tahun 1518 Masehi untuk mengenang jasa Dalem Sidakarya dan sebagai tempat nunas tirta sidakarya bagi umat Hindu. Pura ini kemudian berganti nama menjadi Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya.