Gelgel, sebagai pusat kerajaan besar pasca-Majapahit di Bali, menjadikan Gunung Agung dan Pura Besakih sebagai simbol sentral kekuasaan spiritual dan politiknya. Dalam kosmologi Bali, gunung - terutama Gunung Agung - dipandang sebagai tempat suci yang menjadi pusat alam semesta (axis mundi). Pura Besakih, terletak di lereng Gunung Agung, diasosiasikan dengan pusat kekuatan spiritual tertinggi di Bali. Dalam pandangan ini, keberadaan raja tidak dapat dipisahkan dari gunung sebagai simbol dan sumber kekuasaan. Ideologi kepemimpinan dalam tradisi Bali mengaitkan peran raja (dalam gelar Ida Dalem) sebagai perpanjangan tangan Dewa Gunung. Raja dianggap bertanggung jawab menjaga keseimbangan antara tiga unsur utama dalam konsep Tri Hita Karana: hubungan antara manusia dan Tuhan (parahyangan), manusia dengan manusia (pawongan), dan manusia dengan alam (palemahan). Keseimbangan ini diwujudkan melalui partisipasi aktif raja dalam ritus-ritus keagamaan utama di Besakih.
Struktur organisasi Pura Besakih pada masa kerajaan tradisional menampilkan suatu bentuk kerja sama antara penguasa pusat dan otoritas lokal. Dua tokoh kunci yang mengemban tanggung jawab atas Besakih adalah Ida Dalem (raja Gelgel/Klungkung) dan Anglurah Sidemen (pemimpin adat lokal Besakih). Ida Dalem sebagai raja memiliki kewenangan tertinggi dalam hal simbolisme dan legitimasi kekuasaan. Ia berperan sebagai patron utama Pura Besakih, baik secara spiritual maupun administratif. Partisipasinya dalam berbagai upacara agung bukan hanya sebagai pemimpin politik tetapi sebagai figur religius yang menghubungkan kerajaan dengan kekuatan transenden. Dalam berbagai sumber lisan dan tulisan, diceritakan bahwa Ida Dalem sering mengirim utusan dan sumber daya untuk mendukung kegiatan keagamaan di Besakih, termasuk renovasi meru, pengadaan alat upacara, hingga pengangkatan pemangku atau jero yang bertugas secara tetap. Di sisi lain, Anglurah Sidemen memainkan peran administratif dan operasional. Ia bertanggung jawab atas pengorganisasian sumber daya lokal, termasuk para pengayah (pengabdi ritual), petani yang mengelola tanah-tanah jajar pura, dan para pemangku yang menjalankan upacara harian. Peran Anglurah Sidemen juga mencakup pelestarian adat istiadat, penegakan aturan lokal, dan menjaga kontinuitas ritual sesuai tradisi leluhur. Model kerja sama ini mencerminkan sistem dualisme kekuasaan khas Bali, di mana kekuasaan negara dan adat berjalan seiring. Dalam sistem ini, Besakih menjadi contoh nyata integrasi antara struktur kerajaan dan masyarakat adat. Kolaborasi antara Ida Dalem dan Anglurah Sidemen memperlihatkan bahwa pura tidak dapat dijalankan hanya dengan struktur formal kerajaan atau adat saja, tetapi harus berlandaskan kerjasama harmonis keduanya.
Beberapa warisan yang ditinggalkan oleh Ida Dalem Waturenggong antara lain :
- Pengembangan Sistem Keagamaan: Raja Waturenggong mendukung pengembangan sistem keagamaan Hindu di Bali, yang dipengaruhi oleh ajaran Dang Hyang Nirartha dan Mpu Kuturan.
- Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya: Beliau memerintahkan pembangunan Pura Dalem Sidakarya, yang kemudian berganti nama menjadi Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya, sebagai tempat nunas tirta sidakarya bagi umat Hindu.
- Warisan Sastra: Masa pemerintahan Raja Waturenggong juga menghasilkan banyak karya sastra keagamaan, seperti Sebun Bangkung, Kawya Dharma Putus, dan Usana Bali.
Dalam pemerintahan Raja Waturenggong, Pura Besakih mungkin tidak secara langsung disebutkan sebagai fokus utama, namun perkembangan agama dan budaya pada masa itu tentunya berdampak pada pura-pura lainnya di Bali, termasuk Pura Besakih yang merupakan salah satu pura terpenting di Bali.
Referensi: Stuart-Fox, David J. Pura Besakih: A Study of Balinese Religion and Society. PhD diss., The Australian National University, 1987.