Dalam pandangan orang Bali, tokoh seperti Mpu Kuturan dikaitkan secara historis dengan Mpu Baradah dan Raja Airlangga, sehingga dianggap memiliki posisi dalam kerangka waktu tertentu.
Raja UDAYANA atau biasa dipanggil Dharmodayana Warmadewa merupakan Putra dari Sri Kesari Warmadewa (penguasa pertama di Bali yang namanya dikenal dari Prasasti Blanjong 914 Masehi di Sanur), adalah sosok penting dalam sejarah Bali. Ia menikahi putri Jawa Timur, Mahendradatta (Gunapriya Dharmapatni), keturunan Raja Sindok, dalam suatu aliansi politik yang membawa pengaruh budaya Jawa ke Bali. Pada masa pemerintahan mereka, bahasa Jawa Kuno mulai digunakan dalam prasasti-prasasti resmi, dan catatan tertulis kerajaan bertanggal antara tahun 989 hingga 1001.
Sezaman dengan Raja Udayana dan Raja Airlangga di Kerajaan Majapahit, terdapat dua brahmana terkemuka yaitu MPU KUTURAN dan MPU BARADAH. Keduanya memainkan peran besar dalam struktur otoritas politik dan keagamaan. Mpu Bradah dikenal sebagai pendeta kerajaan Airlangga, sementara Mpu Kuturan dihormati sebagai tokoh pembaru utama adat dan agama Bali termasuk pengenalan sistem Tri Kahyangan (tiga pura desa).
Dalam tradisi Bali, Mpu Kuturan dan Mpu Bradah dikenal sebagai kakak beradik. Sebuah legenda populer menyebut bahwa Airlangga mengutus Mpu Bradah ke Bali untuk membujuk Mpu Kuturan mendukung rencana pembagian kekuasaan antara dua putranya. Namun, Mpu Kuturan menolak, dan Bali tetap di bawah kendali bangsawan lokal yang didukungnya, sedangkan Jawa terbagi menjadi dua wilayah.
Baik Mpu Kuturan maupun Mpu Bradah memiliki hubungan dengan Pura Besakih. Mpu Bradah dihormati melalui keberadaan tempat pemujaan di Merajan Kanginan dan Pura Penataran Agung. Sementara itu, Mpu Kuturan dikaitkan dengan pembangunan meru dan perencanaan struktur pura Besakih. Ia juga dihubungkan dengan Pura Peninjoan, titik tertinggi dari mana ia diyakini merancang kawasan tersebut.
Dengan demikian, Mpu Kuturan telah meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi masyarakat Bali, yaitu sistem kepercayaan dan tata cara persembahyangan Hindu yang harmonis dan seimbang, serta konsep-konsep spiritual yang masih dipraktikkan hingga saat ini.