Susila

cover

Etika Dan Tata Cara Sembahyang Umat Hindu Bali

play

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Hindu Bali selalu berpedoman pada ajaran Agama Hindu warisan para leluhur Hindu di Bali khususnya pada Falsafah Tri Hita Karana.

Tri artinya tiga
Hita artinya kehidupan
Karana artinya penyebab

Tri Hita Karana berarti tiga keharmonisan yang menyebabkan kehidupan yang sejahtera dan bahagia, yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan (Parahyangan), hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia (Pawongan) dan hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam (Palemahan).

Melakukan persembahyangan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan) merupakan salah satu perwujudan tindakan untuk menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan. Pun dalam pelaksanaan kegiatan persembahyangan tersebut, umat Hindu dituntut tidak lupa untuk tetap menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan manusia serta keharmonisan manusia dengan alam lingkungannya. Karena itulah dalam setiap pelaksanaan kegiatan persembahyangan di Pura-Pura di Bali dewasa ini, setiap pemedek diminta untuk mematuhi etika-etika yang telah ditentukan agar tercipta suasana persembahyangan yang suci, khusyuk, bersih dan nyaman serta tertata rapi dan teratur, seperti misalnya:

  • Larangan masuk ke dalam Area Pura bagi wanita yang sedang haid (menstruasi).
  • Larangan membawa plastik sekali pakai ke dalam Lingkungan Pura.
  • Himbauan untuk membawa kembali semua persembahan (upakara) yang sudah selesai dihaturkan sehingga tidak terjadi penumpukan sampah di lingkungan Pura.
  • Menggunakan pakaian adat yang sopan, bersih dan rapi sesuai dengan etika pakaian adat Bali, seperti penggunaan kain kamen hingga mata kaki dan kebaya dengan lengan hingga pergelangan tangan, rambut disanggul rapi dengan perhiasan sewajarnya bagi pemedek wanita, serta kamen hingga di bawah lutut dan udeng bagi pemedek laki-laki.
  • Mengikuti semua arahan, tata-tertib dan tata kelola sirkulasi umat saat melakukan persembahyangan di dalam Pura, dan lain sebagainya.

Adapun tata cara sembahyang agama Hindu, yakni:

  1. Membersihkan Badan
    Langkah pertama yang dilakukan sebelum melakukan sembahyang adalah membersihkan badan dengan cara mandi hingga bersih. Jika tidak bisa, maka dapat dengan mencuci kaki, tangan, dan berkumur.
  2. Berpakaian yang pantas
    Pakaian yang digunakan untuk bersembahyang adalah pakaian sopan dan bersih, seperti menggunakan kain/kamben, kebaya, udeng, saput, dan selendang. Jika tidak memungkinkan dapat dengan pakaian biasa asalkan sopan, bersih, dan menggunakan sentang/selendang.
  3. Persiapan Sembahyang
    Untuk melakukan sembahyang, siapkan bunga dan dupa serta sarana lainnya sebelum masuk ke pura. Setelah itu, gunakan sikap duduk yang sekiranya membuat nyaman.
  4. Langkah-Langkah Persembahyangan
    Umat mengambil posisi di tempat yang telah disediakan untuk melakukan kegiatan persembahyangan, yaitu di areal lapang di depan Pelinggih dan tempat persembahan (Upakara). Umat laki-laki duduk dengan mengambil posisi silasana (bersila), sedangkan umat wanita duduk dengan mengambil posisi bajrasana (bersimpuh). Setelah menyiapkan semua peralatan persembahyangan seperti dupa dan bunga, semua pemedek yang hendak melakukan persembahyangan diharapkan duduk dengan tenang dan hening, menghentikan komunikasi sementara waktu hingga tercipta suasana persembahyangan yang suci.

    Awal persembahyangan dimulai dengan mengatur napas (Pranayama) dengan sikap tangan diangkat di posisi samping kiri dan kanan badan setinggi ulu hati dengan telapak tangan menghadap keatas.
    Langkah pertama yaitu menarik napas yang diiringi dengan mantram: Om Ang Namah (Ya Tuhan, hamba puja Engkau sebagai pencipta dan sumber dari segala kekuatan, anugrahi hamba kekuatan batin).
    Kemudian menahan napas: Om Ung Namah (Ya Tuhan, hamba puja Engkau sebagai pemelihara dan sumber kehidupan anugrahi hamba ketenangan batin).
    Setelah itu, mengeluarkan napas: Om Mang Namah (Ya Tuhan, hamba puja Engkau sebagai pelebur segala yang tidak berguna dalam kehidupan, anugrahi hamba kesempurnaan batin).
    Langkah berikutnya adalah pembersihan tangan dan diri (Karasodhana) dengan posisi tangan ditempatkan di depan ulu hati, yakni:

    • Posisi telapak tangan kanan diatas telapak tangan kiri: Om Soddha mam svaha (Ya Tuhan, sucikanlah seluruh badan jasmani hamba).
    • Posisi telapak tangan kiri diatas telapak tangan kanan: Om Ati Soddha mam svaha (Ya Tuhan, sucikanlah seluruh badan rohani hamba).

    Umumnya rangkaian persembahyangan yang dilakukan oleh umat Hindu adalah dengan melakukan persembahyangan Tri Sandya yang dilanjutkan dengan memanjatkan Kramaning Panca Sembah.

  5. Pemercikan Tirta
    Setelah selesai melakukan rangkaian persembahyangan diatas, selanjutnya pemangku atau pengayah akan memberikan Tirta Wangsuhpada (air yang telah disucikan) secara bergiliran kepada pemedek, dimana tirta tersebut dipercikkan sebanyak 3 kali diatas kepala, diminum sebanyak 3 kali, dan diusapkan ke muka atau bagian tubuh lainnya sebanyak 3 kali.
  6. Memasang Bija
    Di akhir proses persembahyangan, pemangku atau pengayah akan membagikan bija (beras yang telah disucikan) secukupnya untuk ditempelkan di dahi dan di leher serta dimakan oleh pemedek.